Trading di Tengah Pandemi Virus Corona VS Krisis 2008

 


Semenjak Februari 2020 hingga sekarang, perekonomian dunia masih belum stabil akibat kekhawatiran masyarakat dan pelaku pasar terhadap pandemi virus corona. Namun, ini bukanlah krisis pertama yang dihadapi dunia. Mungkin kita masih ingat krisis finansial yang terjadi tahun 2008 dan menyebabkan resesi global atau Great Recession. Bahkan sebelum itu, dunia juga pernah diterpa depresi besar atau Great Depression di tahun 1930-an.


Dari kacamata trader, apa yang dapat kita pelajari dari krisis ekonomi 2008? Apakah kita bisa mengaplikasikan strategi trading yang sama di tengah pandemi virus corona ini?


Penyebab krisis

Penyebab krisis tahun 2008 adalah murni ekonomi yang berawal dari permasalahan mortgage atau kredit properti di Amerika Serikat. Sementara krisis yang tengah kita saat ini hadapi berawal dari munculnya virus corona dari Tiongkok yang memaksa para pelaku bisnis menutup aktivitas usahanya. Masyarakat juga diwajibkan untuk tinggal di rumah sehingga perekonomian pun menurun drastis.


Efek pada harga komoditi emas

Di tengah krisis ekonomi 2008, bank sentral Amerika Serikat, The Fed, berusaha mendongkrak perekonomian. Hal ini berimbas pada melejitnya harga emas di tahun tersebut, bahkan hingga tahun-tahun sesudahnya saat resesi sudah berakhir. Harga emas terus naik dari $869,75 di 2008 hingga mencapai $1.920 per troy ons di 2011, sebelum tertekan ke bawah dan stabil di kisaran $1.200-an dari tahun 2013 hingga awal 2019.


Tahun 2019, harga emas naik karena kisruh dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Hingga merebaknya virus corona di awal 2020 menyebabkan banyak pelaku pasar beralih ke emas karena dianggap sebagai safe haven atau produk yang dianggap “aman”. Harga emas pun naik hingga $2.075 per troy ons di bulan Agustus 2020. Jika kita menggunakan skenario yang sama dengan krisis sebelumnya, di mana The Fed mengeluarkan berbagai stimulus untuk mendongkrak perekonomian, bisa jadi harga emas juga akan mengalami trend bullish atau naik hingga beberapa tahun ke depan. Hal ini bisa menjadi peluang bagi trader yang ingin mencari keuntungan dengan trading emas jangka panjang.


Efek pada pasar forex

Pada krisis 2008, mata uang safe haven cenderung menguat. Ini bisa dilihat pada currency pairs yang menggandeng USD (dolar Amerika Serikat) dan JPY (yen Jepang). Misalnya, pasangan AUDUSD (dolar Australia/dolar Amerika) berada pada posisi yang cenderung bearish atau menurun karena menguatnya nilai USD. Hal yang sama juga terjadi pada pasangan EURJPY (euro/yen Jepang). Pasangan ini juga cenderung bearish karena JPY menguat.


Namun, hal ini belum tentu bisa kita aplikasikan di krisis saat ini. Mengingat krisis sekarang bersumber dari virus, kita juga harus memperhitungkan faktor peningkatan kasus Covid-19, lockdown, usaha riset vaksin, dan lain-lain—sesuai kondisi negara penghasil currency pairs yang kita pilih.


Karena banyaknya faktor fundamental yang perlu menjadi perhatian, pergerakan harga di tengah pandemi ini pun jadi jauh lebih volatil. Satu hal yang dapat kita petik dari krisis-krisis sebelumnya adalah bahwa krisis ekonomi selalu berakhir, walau mungkin butuh waktu yang relatif lama. Di tengah situasi ini, manfaatkan tingginya volatilitas dengan menerapkan strategi jangka pendek untuk mencari peluang profit dan ikuti terus berita-berita fundamental terkait pandemi virus corona di MIFX News.


Belajar Trading Forex Gratis Di www.balitraders.info

Komentar