Mengenal Trendline: Cara Mudah Mendeteksi Peluang Buka Posisi


 

Naik turunnya grafik harga candlestick memang jadi tantangan tersendiri bagi para trader pemula. Apalagi di tengah pandemi virus corona seperti sekarang, di mana pergerakan harga amat sangat volatil. Untuk Anda yang merasa kesulitan memahami tren pergerakan harga pada grafik candlestick, mari belajar cara menggambar garis trendline.


Apa itu trendline?

Pergerakan harga pada chart atau grafik selalu membentuk tren dalam suatu time frame. Tren ini dibagi menjadi tiga, yaitu uptrend atau bullish, di mana harga terus bergerak naik; downtrend atau bearish, saat harga terus bergerak turun; serta sideways atau ranging, yang menunjukkan tren yang lemah karena harga masih bergerak naik-turun tanpa arah yang pasti.

Anda mungkin kesulitan menentukan tren apa yang sedang terjadi jika hanya mengandalkan grafik saja. Di sinilah Anda dapat memanfaatkan trendline. Trendline adalah garis yang digambar pada grafik harga untuk mendeteksi tren dalam suatu time frame. Selain itu, trendline juga dapat menunjukkan level-level support dan resistance, sehingga Anda dapat melihat menemukan peluang trading dengan lebih mudah.


Bagaimana cara menggambar trendline?

Anda dapat menggambar garis trendline dengan cara menghubungkan titik-titik referensi atau swing points. Perhatikan gambar berikut untuk mengenali swing points dengan lebih jelas:

Higher high (HH) dan higher low (HL) adalah titik high dan low baru yang posisinya lebih tinggi dari titik high dan low sebelumnya. Sebaliknya, lower high (LH) dan lower low (LL) merupakan titik high dan low baru yang lebih rendah dari titik high dan low sebelumnya.

Perhatikan gambar berikut untuk melihat cara menarik garis trendline:


Untuk menemukan uptrend, Anda dapat menarik garis trendline dari titik low ke higher low seperti pada gambar. Dan untuk menemukan downtrend, Anda dapat menarik garis trendline dari titik high ke lower high.


Bagaimana cara menggunakan trendline dalam trading forex?

Biasanya, trendline digunakan bersama dengan indikator oscillator, atau indikator yang letaknya berada di bawah grafik, seperti indikator stochastic, CCI, MACD, dan ADX. Anda akan menerima sinyal buy atau sell dari indikator-indikator tersebut sejalan dengan terjadinya uptrend atau downtrend.

Pada saat uptrend dan Anda menerima sinyal buy dari indikator, maka Anda dapat membuka posisi buy dengan Stop Loss 10-20 pips di bawah garis trendline dan Take Profit di area resistance terdekat. Dan jika Anda menerima sinyal sell dari indikator pada saat downtrend, maka Anda dapat membuka posisi sell dengan Stop Loss 10-20 pips di atas garis trendline dan Take Profit di area support terdekat.

Tanpa indikator pun, Anda dapat menggunakan trendline untuk mencari potensi profit. Yaitu dengan cara membuka posisi buy saat uptrend dan sell saat downtrend. Namun, perlu diingat bahwa tidak ada trading tools yang cocok untuk semua orang. Masing-masing trader punya gaya trading dan strateginya sendiri, serta menggunakan berbagai indikator sesuai kenyamanan masing-masing. Jika Anda masih mencari tahu dan menguji coba tools dan strategi apa yang cocok untuk Anda, simulasikan tanpa risiko dengan Akun Demo MIFX gratis di sini!

 Belajar Trading Forex Sekarang di www.balitradersacademy.com

Komentar